sering tampil

Kamis, 15 Januari 2015

MATERIALITAS DAN RISIKO

MATERIALITAS DAN RISIKO
              Materialitas adalah pertimbangan utama dalam menentukan ketepatan laporan audit yang harus dikeluarkan. Konsep-konsep materialitas yang dibahas dalam bab ini berkaitan langsung dengan  konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bab 3. FASB 2 mendenifisikan materialistas sebagai:
·         Besarnya penghapusan atau salah saji informasi keuangan yang dengan memperhitungkan situasinya, menyebabkan pertimbangan seseorang yang bijaksana yang mengandalkan informasi disebut mungkin akan berubah atau terpengaruh oleh penghapusan atau salah saji tersebut. [kata-kata bercetak miring ditambahkan]
              Karena bertanggung jawab menentukan apakah laporan keuangan salah saji secara material, auditor harus berdasarkan temuan salah saji yang material, menyampaikan hal itu kepada klien sehingga bisa dilakukan tindakan koreksi. Jika klien menolak untuk mengoreksi laporan keuangan itu, auditor harus mengeluarkan pendapatan wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar, tergantung pada seberapa material salah saji tersebut. Agar dapat melakukan penentuan semacam itu, auditor bergantung pada pengetahuan yang mendalam mengenai penerapan materialitas.
Menetapkan Pertimbangan Pendahuluan Tentang Materialitas.
              SAS 107 ( AU 312) mengharuskan auditor memutuskan jumlah salah saji gabungan dalam laporan keuangan, yang mereka anggap material pada awal audit ketika sedang mengembangkan strategi audit secara keseluruhan. Kami menyebut keputusan ini sebagai pertimbangan pendahuluan tentang materialitas (preliminary judgement about materiality) karena meskipun merupakan pendapat professional, hal itu mungkin saja berubah selama penugasan. Pertimbangan ini harus didokumentasikan dalam file audit.
              Selama pelaksanaan audit, auditor sering kali mengubah pertimbangan pendahuluan tentang materialitas. Kami menyebut hal ini sebagai pertimbangan tentang materialitas yang direvisi (revised judgement about materiality). Auditor mungkin akan melakukan revisi karena adanya perubahan dalam salah satu factor yang digunakan untuk menentukan pertimbangan pendahuluan, karena auditor memutuskan bahwa pertimbangan pendahuluan terlalu besar atau terlalu kecil.
Faktor – faktor yang mempengaruhi pertimbangan
Materialitas adalah Konsep yang Bersifat Relatif ketimbang Absolut
               Salah saji dalam jumlah tertentu mungkin saja material bagi perusahaan kecil, tetapi dapat saja tidak material bagi perusahaan besar. Jadi, tidak mungkin menetapkan pedoman nilai dolar bagi pertimbangan pendahuluan tentang materialitas yang dapat diterapkan pada semua klien audit.
Dasar yang Diperlukan untuk Mengevaluasi Materialitas
              Karena materialitas bersifat relative, diperlukan dasar untuk menentukan apakah salah saji itu material. Laba bersih sebelum pajak sering kali menjadi dasar utama untuk menentukan berapa jumlah yang material bagi perusahaan yang berorientasi laba, karena jumlah ini dianggap sebagai item informasi yang penting bagi para pemakai. Beberapa perusahaan menggunakan dasar utama yang berbeda karena laba bersih sering kali berfluktuasi cukup besar dari satu tahun ketahun lainnya, sehingga tidak memberikan dasar yang stabil, atau bila entitas itu adalah organisasi nirlaba. Dasar utaama lainnya meliputi penjualan bersih, laba kotor serta total aktiva atau aktiva bersih. Setelah menetapkan dasar utama, auditor juga harus memutuskan apakah salah saji itu dapat mempengaruhi secara material kelayakan dasar-dasar lainnya seperti aktiva lancer, total aktiva, kewajiban lancer, dan ekuitas pemilik. SAS 107 (AU 312) mengharuskan auditor mendokumentasikan dalam file audit dasar yang digunakan untuk mementukan pertimbanganpendahuluan tentang materialitas.
Factor-faktor Kualitatif yang Juga Mempengaruhi Materialitas. Jenis salah saji tertentu mungkin lebih penting bagi para pemakai dibandingkan salah saji lainnya, sekalipun nilai dolarnya sama. Sebagai contoh:
·      Jumlah yang melibatkan kecurangan biasanya dianggap lebih penting ketimbang kesalahan yang tidak disengaja dengan nilai dolar yang sama, karena kecurangan itu mencerminkan kejujuran serta reliabilitas manajemen atau personil lain yang terlibat.
·      Salah saji yang sebenarnya kecil bisa menjadi material jika ada konsekuensi yang munfkin timbul dari kewajiban kontraktual. Katakanlah bahwa modal kerja bersih yang tercantum dalam laporan keuangan hanya beberapa ratus dolar lebih tinggi dari nilai minimum yang disyaratkan dalam perjanjian pinjaman. Jika modal kerja bersih yang sebenarnya lebih kecil dari nilai minimum yang disyaratkan, itu yang menimbulkan default atas pinjaman itu, klasifikasi kewajiban lancer dan tidak lancer akan terpengaruh secara material.
·      Salah saji yang sebenarnya tidak material dapat saja menjadi material jika mempengaruhi tren laba. Sebagai contoh, jika laba yang dilaporkan meningkat 3 persen per tahunnyaselama 5 tahun terakhir tetapi laba tahun berjalan menurun 1 persen, perubahan tersebut mungkin material. Demikian pula, salah saji yang menyebabkan kerugian dilaporkan sebagai laba juga harus mendapat perhatian auditor.
Mengalokasikan Pertimbangan Pendahuluan Tentang Materialitas Ke Segmen-Segmen (Salah Saji Yang Dapat Ditoleransi)
Alokasi pertimbangan pendahuluan tentang materialitas. ke segmen-segmen perlu dilakukan karena auditor mengumpulkan bukti per segmen dan bukan laporan keuangan secara keseluruhan. Jika auditor memiliki pertimbangan pendahuluan tentang materialitas untuk setiap segmen, pertimbangan tersebut akan membantu auditor dalam memutuskan bukti audit yang tepat yang harus dikumpulkan.
              Ketika auditor mengalokasikan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas ke saldo akun, materialitas yang dialokasikan ke saldo akun tertentu itu disebut dalam SAS 107 (AU 312) sebagai salah saji yang dapat ditoleransi (tolerable misstatement).
              Auditor menghadapi tiga kesulitan utama dalam megalokasikan materialitas dalam akun-akun neraca:
1.    Auditor memperkirakan akun-akun tertentu mengandung lebih banyak salah saji dibandingkan akun-akun lainnya.
2.    Baik lebih saji maupun kurang saji harus dipertimbangkan.
3.    Biaya audit relative mempengaruhi pengalokasian ini.

Risiko
Menurut Prof dr.Ir. Soemarno,M.S. “ Risiko adalah suatu kondisi yang timbul karena ketidakpastian dengan seluruh konsekuensi tidak menguntungkan yang mungkin terjadi”
Jenis – Jenis risiko
1.    Risiko deteksi yang direncanakan ( planned detection risk ) adalah resiko bahwa bukti audit untuk suatu segmen akan gagal mendeteksi salah saji yang melebihi salah saji yang dapat ditoleransi.
2.    Risiko Inheren mengukur penilaian auditor atas kemungkinan adanya salah saji (kekeliruan atau kecurangan) yang material dalam segmen, sebelum memperhitungkan keefektifan pengendalian internal.
3.    Risiko pengendalian ( control risk ) mengukur penilaian auditor mengenai apakah salah saji yang melebihi jumlah yang dapat ditoleransi dalam suatu segmen akan dicegah atau terdeteksi secara tepat waktu oleh pengendalian internal klien.
4.    Risiko audit yang dapat diterima ( acceptable audit risk ) adalah ukuran kesedian auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan mungkin mengandung salah saji yang material setelah audit selesai, dan pendapat wajar tanpa pengecualian telah dikeluarkan.








MENILAI RESIKO AUDIT YANG DAPAT DITERIMA
Risiko penugasan ( engagement risk ) adalah resiko bahwa auditor atau kantor akuntan public akan menderita kerugian setelah audit selesai, walaupun laporan audit sudah benar.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko Audit yang Dapat diterima
Derajat Ketergantungan pemakai Eksternal pada laporan keuangan, jika pemakai eksternal sangat tergantung pada laporan keuangan, maka tepat untuk mengurangi risiko audit yang dapat diterima. Jika laporan keuangan sangatdiandalkan, mungkin saja timbul kerugian sosial yang besar jika salah saji yang signifikan dalam laporan keuangan tetap tidak terdektesi, Auditor dapat dengan lebih mudah menjelaskan biaya yang timbul untuk memperoleh bukti tambahanjika kerugian yang diderita  para pemakai akibat salah ssaji yang material ini cukup besar. Ada beberapa faktor yang merupakan indikator yang baik mengenai darajat ketergantungan pemakai ekstern pada laporan keuangan:
          Ukuran klien. Secara umum, semakin  besar opersi klien, semakin luas pemakaian laporan keuangan, Ukuran klien, yang diukur menurut total aktiva atau total pendapatan, akam mempengaruhui risiko audit yang dapat diterima.
          Distribusi kepemilikan. Laporan keuangan  perusahan terbuka umumnya diandalkan oleh lebih banyak pemakai ketimbang laporan keuangan perusahaan tertutup. Bagi perusahaan-perusahaan ini, pihak-pihak yang berkepentingan mencakup SEC, para analis keuangan, serta masyarakat umum.
          Sifat dan jumlah kewajiban. Apabila dalam laporan keuangan terdapat kewajiban berjumlah besar, laporan keuangan tersebut kemungkinan besar akan digunakan secara luas oleh kreditor aktual maupun calon kreditor, ketimbang sekedar kewajiban berjumlah kecil.


Kemungkinan Bahwa Klien akan Mengalami Kesulitan Keuangan Setelah Laporan Audit Dikeluarkan jika klien terpaksa mengajukan permohonan kebangkrutan ataau menderita kerugian yang besar setelah audit selesai, auditor menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk untuk membela mutu audit ketimbng jika klien tidak mengalami tekanan keuangan. Kecenderungan alami pihak yang menderita kerugian  dalam kasus kepailitan, atau karena harga sahamnya menurun, dalah mengajukan gugatan hukum terhadap auditor, Hal ini dapat disebabkan oleh keyakinan bahwa auditor tidak melaksanakan audit yang memadai atau oleh keinginan para pemakai laporan untuk memperoleh kembali sebagian kerugian mereka tanpa meperhatikan kelayakan pekerjaan audit. Memang sulit bagi auditor untuk memprediksi kegagalan keuangan sebelum hal itu terjadi, tetapi ada beberapa faktor yang merupakan indikator yang baik bahwa probabilitasnya meningkat:
          Posisi likuiditas. Jika klien terus mengalami kekurangan kas serta modal kerja, hal ini mengindikasikan adala masalah dalam membayar tagihan dimasa depan, Auditor harus menilai kemungkinan dan signifikan posisi likuiditas yang terus menurun.
          Laba ( rugi ) tahun-tahun sebelumnya. Jika sesuatu perusahaan mengalami penuruna laba atau kenaikan kerugian yang pesat selama beberpa tahun, Auditor harus mengetahui masalah solvensi yang mungkin dihadapi klien dimasa depan, Auditor juga harus mempertimbangkan perubahan laba relatif terhadap saldo labadi tahan yang tersisa.
          Metode pembiayaan pertumbuhan. Jika klien semakin mengandalkan utang sebagai alat pembiayaan, semakin besar risiko kesulitan keuangan jika keberhasilan operasi klien menuru. Auditor harus mengevaluasi apakah aktiva tetap klein dibiayai dengan pinjaman jangka pendek atau jangka panjang karena kebutuhan arus kas luar yang berjumlah besar dalam jangka pendek dapat membuat perusahaan pailit.
          Sifat opersi klien. Jenis bisnis tertentumemiliki risiko  inheren yang lebih besar dari yang lainnya. Sebagai contoh, jika semua kondisi lainnya sama, perusahaan teknologi canggih yang hanya mengandalkan satu produk lebihbesar kemungkinannya akan pailit ketimbangprodusen makanan yang terdiversifikasi.
          Kompetisi manajemen. Manajemen yang kompetan akan selalu waspada terhadap potensi kesulitan keuangan dan akan memodifikasi metode operasinya untuk meminimalkan dampak maslah janhgka pendek.Auditor harus menilai kemampuan manajemen sebagai bagian dari evaluasi atas kemungkinan terjadinya kepailitan.
Ealuasi Auditor atas integritas Manjemen  sebagai bagian dari investigasi atas klien baru dan evaluasi atas kelanjutan klien, jika klien memiliki integritas yang meragukan, auditor mungkin akan menilai risiko audit yang dapatditerima yang lebih rendah. Perusahaan yang memiliki cara yang akhirnya menimbulkan komplik dengan para pemegang saham, pembuat peraturan, serta pelanggan. Selanjutnya, konflik tersebut sering kali mempengaruhi pandangan para pemakai laporan atas mutu audit dan dapat saja memunculkan gugatan hukum serta perselisihan lainnya,
          
MENILAI RISIKO INHEREN
Percantuman risiko inheren pada model risiko audit adalah salah satu knsep terpenting dalam auditing, Hal ini tersebut menyiratkan bahwa auditor harus berupaya mmprediksi dimana salah saji yang paling besar dan paling kecil mungkin terjadi dalam segmen-segmen laporan keuangan. Informasi ini akan mempengaruhi jumlah bukti yang harus dikumpulkan auditor, penugasan staf, dan review atas dokumentasi.
Auditor harus menilai faktor-faktor yang menyebabkan risiko inheren dan memodifikasi bukti audit untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut. Auditor harus mempertimbangkan beberapa faktor utama ketika menilai risiko inheren:
·         Sifat bisnis klien
·         Hasil audit sebelumnya
·         Penugasan awal versus penugasan berulang
·         Pihak-pihak yang terkait
·         Transaksi nonrutin
·         Pertimbangan yang diperlukan untuk mencatat saldo akun dan transaksi dengan tepat.
·         Unsur-unsur populasi
·         Faktor-faktor yang berkaitan dengan pelapor keuangan yang curang
·         Yang berkaitan dengan misapropriasi aktiva
Sifat Bisnis Klien  Risiko untuk akun-akun tertentu dipengaruhi oleh sifat bisnois klien,
Hasil Audit sebelumnya salah saji yang ditemukan dalam audit tahun sebelumnya dapat saja terjadi lagi dalam audit tahun berjalan, karena banyak jenis salah saji bersifat sistematis, dan organisasi sering kali lamban dalam mengadakan perubahan untuk menghilangkan salah sji tersebut.
Penugasan Awal Versus Penugasan Berulang Auditor akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan tentang kemungkinan salah saji setelah mengaudit klien selama beberapa tahu. Tidak adanya hasil audit tahun sebelumnya akan menyebabkan sebagian besar auditor menilai risiko inheren yang lebih tinggi pada audit awal ketimbangpada penugaan berulan. Di mana sebelumnya tidak ditemukan salah saji yang material. Kebanyakan auditor menetapkan risiko inheren yang tinggi pada tahun pertama audit dan menguranginya pada tahun-tahun berikutnya setelah memahami klien.
Pihak yang terkait Transaksi antara perusahaan induk dan perusahaan anak, serta antara manajemen dan entitas perusahaan,adalah contoh transaksi dengan pihak yang terkait sebagaimana di definisikan dalam SFAS 57. Karena transaksi – transaksi tersebut tidak terjadi diantara dua pihak independen yang dilakukan secara “ arm’s length” kemungkinan bahwa transaksi – transaksi tersebut disalahsajikan jauh lebih besar , sehingga risiko inheren meningkat.
Transaksi Non Rutin transaksi – transaksi yang tidak biasa bagi klien yang lebih besar kemungkinannya di catat secara salah ketimbang transaksi rutin karena klien sering kali belum berpengalaman mencatat transaksi non rutin itu. Contoh nya meliputi kerugian akibat kebakaran , akuisisi property utama , serta perjanjian lease.
Pertimbangan yang diperlukan untuk mencatat saldo akun dan transaksi dengan tepat banyak saldoo akun, antara lain penyisihan untuk piutang tak tertagih , persediaan yang usang, kewajiban pembayaran garansi , pergantian aktiva besar-besaran versus pergantian parsial, serta cadangan pinjaman kerugian pinjaman bank , memerlukan estimasi dan banyak pertimbangan manajemen , karena saldo dan transaksi ini membutuhkan banyak pertimbangan , kemungkinan salah saji meningkat, dan akibat auditor harus memperbesar risiko inheren.
Unsur – Unsur Populasi setiap item – item yang membentuk total populasi sering kali juga mempengaruhi ekspetasi auditor mengenai salah saji yang material , sebagian besar auditor menggunakan risiko inheren yang kebih tinggi untuk piutang usaha yang sebagian besar rekeningnya sudah lama jatuh tempo daripada yang sebagian besar akunnya lancar.
Faktor faktor yang berkaitan dengan pelaporan keuangan yang curang Misapropiasi aktiva. Membahas tanggung jawab auditor untuk menilai risiko pelaporan keuangan yang curang serta misapropriasi aktiva. Auditor harus mengevalausi informasi yang mempengaruhi risiko inheren serta memutuskan faktor risiko inheren yang tepat bagi setiap siklus, akun,dan, sering kali, bagi setiap tujuan audit,beberapa faktor,seperti penugasaan awal
Hubungan Antara Materialitas, Risiko, Audit, Bukti Audit
            Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, bukti audit, dan risiko audit digambarkan sebagai berikut :
1.            Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat meterialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
2.            Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.
3.            Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh salah satu dari tiga cara berikut ini :
a.       Menambah tingkat materialiras, sementara itu mempertahankan jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
b.      Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan.
c.       Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara bersama-sama.


Perencanaan Audit Dan Prosedur Analitis

Perencanaan Audit Dan Prosedur Analitis
Pengertian Perencanaan Audit
Perencanaan audit adalah total lamanya waktu yang dibutuhkan oleh auditor untuk melakukan perencanaan audit awal sampai pada pengembangan rencana audit dan program audit menyeluruh Variabel inidiukur dengan menggunakan jam perencanaan audit. Keberhasilan penyelesaian perikatan audit sangat ditentukan oleh kualitas perencanaanaudit yang dibuat oleh auditor.
Menurut Standar pekerjaan lapangan pertama Profesional AkuntanPublik (SPAP) mensyaratkan adanya perencanaan yang memadai yaitu:
”Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya”
Alasan utama mengapa auditor harus merencanakan penugasan dengan tepat :
1.    Memungkinkan auditor mendapatkan bukti yang tepat untuk mencukupi situasi yang dihadapi
Jika kantor akuntan public ingin meminimalkan kewajiban hukum dan mempertahankan reputasi yang baik dalam masyarakat bisnis, bukti yang tepat yang mencukupi harus di peroleh.
2.    Membantu menjaga biaya audit tetap wajar
Agar tetap kompetitif (dapat bersaing), kantor akuntan public harus menjaga kewajaran biayanya.



3.    Menghindarkan kesalahpahaman dengan klien
Menghindari kesalah pahaman dengan klien sangan diperlukan untuk , membina hubungan baik dengan klien dan memfasilitasi pekerjaan berkualitas tinggi dengan biaya wajar.
Contoh : andaikan auditor telah menginformasikan kliennya bahwa audit akan selesai sebelum tanggal 30 Juni tetapi belum juga selesai hingga bulan Agustus karena penjadwalan staf yang kurang baik. Klien mungkin kesal dengan kantor akuntan ini dan bahkan dapat mengajukan tuntutan atas pelanggaran kontrak.
Sebelum memulai pembahasan, ada 2 istilah risiko yaitu :
1.    Risiko audit yang dapat di terima (acceptable audit risk) :
Ukuran seberapa besar auditor bersedia menerima bahwa laporan keuangan akan salah saji secara material setelah audit di selesaikan dan pendapat wajar tanpa pengecualian telah dikeluarkan.
Apabila auditor memutuskan untuk memilih risiko audit yang diterima lebih rendah , ini berarti auditor menginginkan kepastian yang lebih besar bahwa laporan keuangan tidak mengantung salah saji
Resiko nol persen berarti kepastian , risiko 100 persen berarti sama sekali tidak yakin.
2.    Risiko Inheren (inherent risk)
Ukuran penilaian auditor atas kemungkinan adanya salah saji yang      material dalam suatu saldo akun sebelum mempertimbangkan keefektifanpengendalian internal. Sebagai contoh, jika auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan besar ada salah saji yang material dalam akun seperti piutang usaha, auditor akan menyimpulkan bahwa ada risiko inheren yang tinggi pada akun piutang usaha tersebut.


Penilaian risiko audit yang dapat diterima dan risiko inheren adalah bagian yang penting dari perencanaann audit, karena hal itu membantu menentukan jumlah bukti yang harus dikumpulkan dan staf yang dibututhkan untuk peungasan tersebut. Sebagai contoh, jika risiko inheren untuk persediaan tinggi karena masalah penilaian yang rumit, lebih banyak bukti yang harus dikumpulkan dalam audit persediaan, dan staf yang lebih berpengalaman harus di tugaskan untuk melakukan pengujian dibidang ini.
Perencanaan Audit dan Perancangan Pendekatan Audit









1.    Menerima klien dan  melakukan perencanaan audit awal
Perencanaan audit awal melibatkan empat hal , yang semuanya harus dilakukan lebih dahulu dalam audit.
ü  Auditor memutuskan apakah akan menerima klien baru atau terus melayani klien yang ada sekarang. Penentuan ini biasanya dilakukan oleh auditor yang berpengalaman dan berwenang mengambil keputusan penting. Auditor ingin membuat keputusan ini lebih awal, sebelum mengeluarkan biaya yang cukup besar yang tidak bisa ditutup kembali.
Investigasi atas klien baru
Kebanyakan KAP akan menyelidiki perusahaan tersebut untuk menentukan akseptabilitasnya. Kantor itu melakukannya dengan memeriksa, sejauh memungkinkan, prospektif klien ini dalam komunitas bisnis, stabilitas keuangannya, dan hubungannya dengan KAP sebelumnya.
Untuk calon klien yang sebelumnya telah diaudit oleh KAO lain, auditor yang baru (audito penerus) diharuskan oleh SAS 84 (AU 315) untuk berkomunikasi dengan auditor pendahulu. Tujuan persyaratan ini adalah untuk membantu auditor penerus mengevaluasi apakah ia akan menerima penugasan tersebut.
Klien yang berlanjut
Setiap tahun banyak KAP mengevaluasi klien- klien yang ada saat ini gna menentukan apakah ada alasan untuk menghentikan audit. Konflik yang terjadi sebelumnya menyangkut ruang lingkup audit yang tepat, jenis pendapat yang akan diberikan, jumlah fee atau hal-hal lain dapat menyebabkan jenis audit auditor menghentikan kerja samanya. Auditor juga dapat mengungurkan diri setelah menentukan bahwa klien tidak mempunyai integritas. Menurut kode prilaku professional AICPA tentang independensi, jika klien mengajukan tuntutan hukum melawan KAP atau sebaliknya , Kantor akuntan tersebut tidak dapat melakukan audit atas klien ini. Demikian juga, jika ada fee yang belum dibayrkan atas jasa yang diberikan lebih dari 1 tahun lalu, KAP tidak dapat melaksanakan audit dalam tahun berjalan.
ü  Auditor mengidentifikasi mengapa klien menginginkan atau membutuhkan audit. Informasi ini akan mempengaruhi bagian proses perencanaan selanjutnya.
Factor utama yang mempengaruhi risiko audit yang dapat diterima adalah pemakaian laporan keuangan yang mungkin dan maksudnya menggunakan laporan tersebut. Auditor mungkin mungkin kan mengumpulkan lebih banyak bukti apabila laporan keuangan digunakan secara ekstensif, seperti yang sering terjadi pada perusahaan terbuka, yang memiliki utang yang besar, dan peushaanyang akan dijual dalam waktu tepat.
ü  Untuk menghindari kesalahpahaman, auditor harus memahami syarat-syarat penugasan yang ditetapkan klien.
Pemahaman yang jernih tentang syarat-syarat penugasan harus dimiliki oleh klien dan KAP. SAS 108 (AU 310) mensyaratkan bahwa auditor harus mendokumentasikan pemahamannya dengan klien dalam surat penugasan (engagement letter), meliputi tujuan penugasan, tanggung jawab auditor dan manajemen, serta batasan-batasan penugasan.
ü Auditor mengembangkan strategi audit secara keseluruhan, termasuk staf penugasan dan setiap spesialis audit yang diperlukan.
Setelah memahami alasan klienuntuk melakukan audit , auditor harus mengembangkan startegi audit pendahuluan. Strategi ini harus mempertimbangkan sifat klien , termasuk bidang-bidang dimana terdapat risiko saah saji yang signifikan yang lebih besar. Auditor juga harus mempertimbangkan factor-faktor lainnya,seperti jumlah lokasi klien dan keefektifan pengendaian klien dimasa lalu, dalam mengembangkan pendekatan audit pendahuluan. Strategi yang terencana akan membantu audito menentukan sumber daya yang diperlukan dalam penugasan itu.
“Audit harus dilaksankan oleh orang yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang memadai sebagai auditor”


2.    Memahami Bisnis dan Industri Klien
Auditor harus memperoleh pemahaman yang memadai tentang entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian internalnya, untuk menilai risiko salah saji yang material pada laporan keuangan  baik karena kekeliruan maupun kecurangan, dan untuk merancang sifat, penetapan waktu serta luar prosedur audit selanjutnya.
·         Industri dan Lingkungan Eksternal
Alasan utama untuk mndapatkan pemahaman yang baik tentang industry klien dan lingkungan eksternal  adalah :
ü  Risiko yang berkaitan dengan industry tertentu dapat mempengaruhi penilaian auditor atas risiko bisnis klien dan risiko audit yan dapat diterima dan bahkan dapat mempengaruhi auditor dalam menerima penugasan pada industry simpan pinjam dan asuransi kesehatan.
ü  Risiko inheren tertentu sudah umum bagi semua klien dalam industry tertentu. Familiraritas dengan risiko – risiko tersebut akan membantu auditor dalam menilai  relecansinya bagi klien bersangkutan. Contohnya meliputi kemungkinan keuangan persediaan dalam industry pakaian jadi, risiko inheren atas penagihan piutang usaha  dalam industry pinjaman konsumen , serta cadangan untuk risiko inheren kerugian dalam industry asuransi kecelakaan.
ü  Banyak industry memiliki persyaratan akuntasi yang unik yang harus dipahami auditor untuk mengevaluasi apakah laporan keuangan klien telah sesuai dengan prinsip – prinsip akuntansi yang belaku umum.  Sebagai contoh, jika auditor melakukan audit atas sebuah pemerintah kota, auditor harus memahami akuntansi pemerintahan dan persyaratan auditnya. Juga ada persyaratan akuntansi yang unik bagi perusahaan konstruksi, kereta api , organisasi nirlaba, lembaga keuangan , dan banyak organisasi lainnya.
·         Operasi dan Proses Bisnis
          Kunjungan ke pabrik dan kantor
          Mengidentifikasi pihak yang berkaitan
·         Manajemen dan Tata kelola
          Angaran dasar dan anggaran rumah tangga
          Kode etik
          Notulen rapat perusahaan

·         Tujuan dan Strategi Klien
Strategi adalah pendekatan yang diikuti entitas untuk mencapai tujuan organisasi.
Tujuan klien yang berkaitan dengan :
       Reabilitas pelaporan keuangan
       Efektivitas dan efisiensi operasi
       Ketaatan pada hukum dan peraturan

3.    Menilai Risiko Bisnis Klien
Auditor menggunakan pengetahuan yang diperolehnya dari pemahaman strategis atas bisnis dan industry klien untuk menilai risiko bisnis klien yaitu ririko bahwa klien akan gagal dalam mencapai tujuannya. Ririko bisnis klien dapt timbul dari banyak factor yang mempengaruhi klien dan lingkungannya, seperti teknologi baru yang mengikis keunggulan kompetitif klien, atau klien gagal melaksanakan strateginya sebaik pesaing.
Perhatian utama auditor tertuju pada risiko salah saji yang material dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh risiko bisnis klien. Sebagai contoh, perusahaan sering melakukan akuisisi atau merger strategis yang bergantung pada keberhasilan penggabungan operasi antara dua atau lebih perusahaan. Jika sinergi yang direncanakan tidak berkembang, nilai aktiva tetap dan goodwill yang di catat dalam akuisisi dapat menurun, yang akan mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan.


4.    Melaksanakan Prosedur Analitis Pendahuluan
Auditor melaksanakan prosedur analitis pendahuluan untuk memahami dengan lebih baik bisnis klien dan untuk menilai risiko bisnis klien. Salah satu prosedur tersebut membandingkan rasio yang dibandingkan dengan tahun sbeelumnya, atau dengan rata- rata industry sehingga membantu auditor mengidentifikasi area yang mengalami kenaikan risiko salah saji yang membutuhkan perhatian lebih lanjut selama audit.
PROSEDUR ANALITIS
Penekanan pada prosedur analitis dalam definisi SAS 56 tertuju pada ekspektasi yang dikembangkan oleh auditor. Sebagai contoh, auditor dapat membandingkan beban komisi yang tercatat selama tahun berjalan dengan total penjualan yang tercatat yang dikalikan dengan tingkat komisi rata-rata sebagai satu penggujian atas kewajaran komisi yang dicatat secara keseluruhan.agar prosedur analitis ini menjadi relevan dan dapat diandalkan, auditor cenderung menyimpulkan bahwa penjualan yang tercatat telah dinyatakan dengan benar, semua penjualan mendapat komisi, dan rata-rata tingkat komisi aktual dapat ditentukan.
Prosedur analitis dapat dilaksanakan pada salah ketiga waktu selama penugasan:
1.    Prosedur analitis diwajibkan dalam tahap perencanaan untuk membantu menetukan sifat,luas, dan penetafan waktu prosedur audit. Ini membantu auditor mengendinfikasi hal-hal signifikan yang menantikan signifikan yang nantinya memerlukan perhatian khusus dalam dalam penugasan. Sebagai contoh , perhitungan perputaran dalam persedian sebelum pengujian harga persedian dilakukan dapat menunjukkan kebutuhan akan perhatian khusus selama pengujian tersebut. Prosedur analitas yang dilakukan dalam tahap perencanaan biasanya menggunakan data agregrat pada tingkat tinggi, dan kecanggihan,luas, serta penetapan waktu prosedur bervariasi anatara klien, untuk beberapa klien, perbandingan saldo akun tahunsebelumnya dan tahun berjalan dengan menggunakan neraca saldo yang belum diaudit mungkin sudah mencukupi.untuk klien lainnya, prosedur tersebut dapat melibatkan analisis yang ekstensif atas laporan keuangan kuartalan berdasarkan penilaian auditor.
2.    Prosedur analitis sering kali dilakukan selama tahap pengujian audit sebagai pengujian subtansif untuk mendukung saldo akun. Pengujian ini sering kali dilakukan dalam hubungannya dengan prosedur audit lainnya.sebagai contoh, bagian setiap polis asuransi dibayar dimuka dapat dibandingkan dengan polis yang sama untuk tahun sebelumnya sebagai bagian dari pengujian atas asuransi dibayar dimuka, kepastian yang diberikan oleh prosedur analitis tergantung pada prediktabilitas hubungan, serta ketepatan ekspektasi dan reliabilitas data yang digunakan untuk mengembangkan ekspektasi itu.
3.    Prosedur analitis juga diwajibkan selama tahap penyelesain audit. Pengujian semacam itu berfungsi sebagai reviewakhir atas salah saji yang material atas masalah keuangan, dan membantu auditor mengambil ‘’pandangan objektif’’ akhir pada laporan keuangan yang telah diaudi,biasanya, seorang partner senior, yang memiliki pengetahuan yang luas atas bisnis klien, melakukan prosedur analitis selama review akhir terhadap file audit dan laporan keuangan untuk mengindenfikasikan kemungkinan ketidaktelitian dalam audit.
LIMA JENIS PROSEDUR ANALITIS
                Kegunaan prosedur analitis sebagai bukti audit sangat bergantung pada auditor yang mengembangkan ekspektasi tentang beberapa saldo akun atau rasio yang harus dicatat, tanpa memperhatikan jenis prosedur analitis yang digunakan auditor mengembangkan ekspektasi menyangkut saldo akun atau rasio dengan mempertibangkan informasi dari periode sebelumnya, tren industry, ekspektasi anggaran yang disiapkan klien, dan informasi nonkeuangan. Biasanya auditor membandingkan saldo dan rasio klien dengan saldo dan rasio yang diharapkan dengan menggunakan satu atau lebih jenis prosedur analitis berikut. Dalam setiap kasus, auditor membandingkan data klien dengan:


1.    Data industry.
2.    Data periode sebelumnya yang serupa.
3.    Hasil yang diharapkan yang ditentukan klien.
4.    Hasil yang diharapkan yang ditentukan auditor.
5.    Hasil yang diharapkan dengan menggunakan data nonkeuangan.

1.    Membandingkan data klien dan data industry
Manfaatkan paling penting dari perbandingan industry adalah membantu dan memahami bisnis klien dan sebagai indikasi atas kemungkinan adanya kegagalan keuangan, tetapi munkin kurang membantu auditor dalam mengindenfikasikan salah saji yang potensial, sebagai contoh, rasio yang ada pada Robert Morris Associates terutama adalah jenis yang digunakan para banker dan eksekutif kredit lainnya untuk mengevaluasi apakah perusahaan mampu melunasi pinjamannya, informasi yang sama tersebut berguna bagi auditor dalam menilai kekuataan relative dari struktur modal klien, kapasitas pinjamannya, dan kemungkinan gagal keuangan.
Namun, kelemahan utama penggunaan rasio industry dalam auditing adalah perbedaan antara sifat informasi keuangan klien dengan perusahaan yang membentuk total industri. Karena data indutri adalah rata-rata yang lebih luas, perbandingannya mungkin tidak berarti. Sering kali, lini bisnis klien tidak sama seperti standar industry. Selain itu, perusahaan yang berbeda menerapkan metode akuntasi yang juga berbeda, sehingga mempengaruhi komparabilitas data.
2.    Membandingkan data klien dengan data periode sebelumnya yang serupa
Andaikan bahwa presentase marjin kotor sebuah perusahaan berada anatara 26 dan 27 persen untuk masing-masing dari 4 tahun  terakhir tetapi turun menjadi 23 persen tahun berjalan. Penurunan marjin ini harus diperhatikan oleh auditor jika penurunan itu tidak diperkirakan. Penyebab penurunan ini dapat berupa perubahan kondisi ekonomi, disamping dapat juga disebabkan oleh salah satu saji laporan keuangan, antara lain kesalahan cutoff penjualan atau pembelian, penjualan yang belum tercatat, lebih saji utang usaha, atau kesalahan kalkulasi biaya persedian. Penurunan marjin kotor mungkin akan dapat mengakibatkan meningkatnya bukti dalam satu atau lebih akun yang mempengaruhi marjin kotor tersebut. Auditor harus menentukan penyebab penurunan marjin kotor ini untuk menyakinkan bahwa laporan keuangan  tidak salah saji secara material.
1.    Membandingkan saldo tahun berjalan dengan tahun sebelumnya
2.    Membandingkan rincian total saldo dengan rincian yang serupa untuk tahun sebelumnya
3.    Menghitung Rasio dan Hubungan persentase untuk Dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
TABEL 8.2
Perbandingan dan hubungan internal
Rasio atau perbandingan
Kemungkinan salah saji
Perputaran bahan baku untuk perusahaan manufaktur
Salah saji persediaan atau harga pokok penjualan atau keusangan persediaan bahan baku
Komisi penjualan dibagi dengan penjualan bersih
Salah saji komisi penjualan
Retur penjualan dan potongan harga dibagi dengan penjualan kotor
Misklasifikasi retur penjualan dan pengurangan harga atau retur atau pengurangan harga yang belum tercatat sesudah akhir tahun
Nilai penyerahan tunai asuransi jiwa (tahun berjalan) dibagi dengan nilai penyerahan tunai asuransi jiwa (tahun sebelumnya)
Kesalahan mencatat perubahan dalam nilai penyerahan tunai atau kekeliruan mencatat perubahan
Masing-masing beban manufaktur sebagai persentasi dari total beban manufaktur
Salah saji yang signifikan dari masing-masing beban total




3.    Membandingkan data klien dengan hasil yang diharapkan yang ditentukan klien
        Kebanyakan perusahaaan menyiapkaan anggaraan (budghets) untuk berbagai aspek operasi dan hasil keuangannya. Karena anggaran merupakan ekspektasi klien selama periode berjalan, auditor harus menyelidiki perbedaan yang paling signifikan antra hasil yang dianggarkan dengan hasil aktual, karena area ini dapat mengandung salah saji yang potensial, jika tidak ad perbedaan, salah saji tidak mungkin terjadi.apabila data klien dibandingkan dengan anggaran, ada dua kepentingan khusus;
Kepentingan pertama,auditor harus mengevaluasi apakah anggaran itu merupakan rencana yang realistis.
Kepentingan kedua adalah kemungkinan bahwa informasi keuangan saat ini telah diubah oleh personil klien agar sesuai dengan anggaran.
4.    Membandingkan data klien dengan hasil yang diharapkan yang ditentukan auditor
        Perbandingan umum lainnya antara data klien dengan hasil yang diharapkan terjadi ketika auditor menghitung saldo yang diharapkan untuk dibandingkan dengan saldo aktual. Pada jenis prosedur analitis ini, auditor membuat estimasi tentang rupa saldo akun yang seharusnya dengan menghubungkannya dengan beberapa akun neraca atau akun laporan laba-rugi lainnya, atau membuat proyeksi berdasarkan beberapa tren historis. Berikut ini ada dua contohnya:
1.    Auditor dapat melakukan perhitungan independent terhadap beban bunga atas wesel bayar jangka panjang dengan mengalikan saldo akhir bulan wesel bayar dengan suku bunga rata-rata bulanan. Estimasi independent ini didasarkan pada pengujian atas kelayakan beban bunga yang tercatat.
2.    Auditor dapat menghitung rata-rata bergerak dari penyisihan piutang tak tertagih sebagai persentase piutang usaha kotor, dan kemudian menerapkannya pada saldo piutang usaha kotor pada akhir taun audit. Denga menggunakan tren historis seperti ini, auditor dapat menentukan nilai yang diharapkan untuk penyisihan tahun berjalan.
5.    Membandingkan data klien dengan hasil yang diharapkan dengan menggunakan data nonkeuangan
        Andaikan anda sedang mengaudit sebuah hotel, anda dapat mengembangkan ekspektasi atas total pendapatan dari kamar hotel dengan mengalikan jumlah kamar dengan tariff setiap kamar, tarif harian rata-rata untuk setiap kamar, dan tingkat hunian rata-rata. Anda kemudian dapat membandingkan estimasi anda dengan pendapatan yang tercatat sebagai pengujian atas kelayakan pendapatan yang tercatat. Pendekatan yang sama juga dapat diterapkan untuk melakukan  estimasi dalam situasi lain, seperti pendapatan uang kuliah di universitas (rata-rata uang kuliah dikali pendaftar), penggajian pabrik (total jam kerja dikali tarif upah), dan biaya bahan yang dijual (unit yang terjual dikali biaya bahan per unit). Namun kepentingan utama dalam menggunakan data non-keuangan terletak pada keakuratan data. Pada contoh hotel, anda tidak boleh menggunakan perhitunganyang diestimasikan atas pendapatan hotel sebagai bukti audit kecuali anda yakin dengan kelayakan perhitungan jumlah kamar, tariff kamar rata-rata, dan tingkat hunian rata-rata. Jadi, jelas bahwa ketepatan tingkat hunian lebih sulit untuk diefaluasi ketimbang kedua item lainnya.

Sabtu, 27 Desember 2014

Proses Audit


PROSES AUDIT
Tujuan menyeluruh dari suatu audit laporan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyajikan secara wajar, dalam senua hal yang material sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).Prosess diagonostik untuk membuat pertimbangan tentang akun yang mungkin mengandung salah saji yang material serta memperoleh bukti tentang penyajian yang wajar dalam laporan keuangan melibatkan sejumlah langkah.
Bab ini berfokus pada tujuh langkah pokok yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit laporan keuangan:
1. Memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri
2. Mengindefikasi asersi laporan keuangan yang relevan
3. Membuat keputusan tentang jumlah yang material bagi para pengguna laporan keuangan
4. Membuat keputusan tentang komponen risiko audit
5. Memperoleh bukti melalui prosedur audit, termasuk prosedur untuk memahami pengendalian intern, melaksanakan pengujian pengendalian, dan melaksanakan pengujian substantif
6. Menetapkan bagaimana menggunakan bukti untuk mendukung suatu pendapat audit, komunikasi kepada klien lain, serta jasa bernilai tambah
7. Mengkomunikasikan temuan-temuan.
Berikut ini adalah ikhtisar singkat bagaimana elemen-elemen ini dapat dipadukan bersama dalam pelaksanaan suatu audit.Seorang auditor harus mengembangkanpemahaman tentang bisnis dan industri agar dapat memahami substansi ekonomi suatu transaksi entitas dan bagaimana GAAP diterapkan dalam industri tersebut, serta untuk mengembangkan harapan tentang laporan entitas. Agar dapat mengelola audit tersebut dengan baik, maka auditor harus membagi audit menjadi audit-audit atas saldo akun pertama dan golongan transaksi, dan kemudian audit atas asersi laporan keuangan untuk setiap saldo akun dan golongan transaksi.
ASERSI MANAJEMEN
Tujuan menyeluruh dari audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyatakan secara wajar, dalamj semua hal yang material, sesuai dengan GAAP.Untuk mencapai tujuan tersebut, hal yang lazim dilakukan dalam audit adalah mengidentifikasi sejumlah tujuan audit yang spesifik bagi setiap akunyang dilaporankan dalam laporan keuangan. Tujan yang spesifik ini diambil dari asersi yang dibuat oleh manajemen dan dimuat dalam laporan keuangan.
Laporan keuangan terdiri dari asersi manajemen yang eksplisit dan implisit.Asersi ini merupakan hal yang penting karena menjadi pedoman auditor dalam pengumpulan bukti.
Asersi serupa merndasari semua komponen aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban dalam laporan keuangan. Sesuai dengan itu, Auditing Standard Board (ASB) dalam SAS 31, Evidential Matter (AU 326.03), telah mengakui lima kategori asersi laporan kuangan sebagai berikut:
1. Keberandaan atau keterjadian (existence or occurrence)
2. Kelengkapan (completeness)
3. Hak dan kewajiban (rights and obligations)
4. Penilaian dan alokasi (valuation or allocation)
5. Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)
Lima kategori asersi ini merupakan hal yang penting karena dapat emmbantu auditor memahami jenis salah saji potensial yang dapat terjadi dalam laporan keuangan, dan dapat membantu auditor mengembangkan perencanaan audit untuk mengumpulkan bukti yang berkaitan dengan kewajaran penyajina laporan keunagan. Dalam bagian tersebut akan disajikan uraian setiap kategori asersi beserta contohnya.
KEBERADAAN ATAU KETERJADIAN
Asersi tentang keberadaan atau kejadian (existence or occurrence) berkaitan dengan apakah aktiva atau kewajiban entitas memang benar-benar ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang dicapat benar-benar telah terjadi selama periode tersebut.
KELENGKAPAN
Asersi mengenai kelengkapan (completeness) berkaitan dengan apakah semua transaksi dan akun yang harus disajikan dalam laporan keuangan benar-benar telah dicantumkan.
HAK DAN KEWAJIBAN
Asersi mengenai hak dan kewajiban (right and obligation) berkaitan dengan apakah aktiva telah menjadi entitas dan hutang memang telah menjadi kewajiban entitas pada suatu tanggal tertentu.
PENILAIAN ATAU ALOKASI
Asersi mengenai penilaian atau alokasi (valuation or allocation) berkaitan dengan apakah komponen aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban telah dicantumkan dalam laporan kuangan dengan jumlah yang semestinya.


PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
Asersi mengenai penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure) berkaitandengan pakah komponen tertentu laporan keuangan telah digolongkan, diuraikan, dan diungkapan sebagaimana mestinya.
MATERIALITAS
Pernyataan konsep PASB no.2 mendefinisikan materialisasi (materiality) sebagai “besarnya pengabaian atau salah saji informasi akuntansi yang dalam kaitannya dengan kondisi di sekitarnya, akan memungkinkan pertimbangan pihak yang berkepentinganyang mengandalkan informasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh pengabaian atau salah saji tersebut”.
Bagaiman konsep materilalitas ini dapat mempengaruhi proses audit? Pertama, auditor membuat pertimbangan awal mengenai materialitas sementara ia merencankan perikatan untuk membuat keputusan penting tintang lingkup audit. Kedua, konsep materialitas iniu juga menjadi pedoman auditor ketika mengevaluasi temuan audit.Apabila digunakan teknik penarikan sampel, auditor harus memproyeksikan salah saji yang diketahui dalam sampel pada populasi secara keseluruhan. Keputusan materialitas ini merupakan elemen kunci bagi suatu audit, karena akan menjadi pedoman auditor pada berbagai keputusan berikutnya tentang apa yang penting tau tidak penting dalam pembentukan pendapat atas laporan keuangan.
RISIKO AUDIT
Laporan audit standar menjelaskan bahwa audit dirancang untuk memperoleh keyakinan yang memadai – bukan absolut – bahwa laporan keunagan telah bebas dari salah saji yang material. Karena audit tidak menjamin bahwa laporan keuangan telah bebas dari salah saji yang material, maka terdapat beberapa derajat risiko bahwa laporan keuangan mengandung salah saji yang tidak terdeteksi oleh auditor
Risiko audit (audit risk) adalah risiko auditor tanpa sadar tidak melakukan modifikasi pendapat sebagaiman mestinya atas laporan keuangan yang mengandung salah saji material.
KOMPONEN RISIKO AUDIT
Dalam praktik, seorang auditortidak hanya harus mempertimbangkan risiko audit untuk setiap saldo akun dan golongan transaksi saja , tetapi juga setiap asersi yang relevan dengan saldo akun dan golongan transaksi yang material.
Risiko Bawaan
Risiko Bawaan adalah (inherent risk) adalah kerentalan suatu asersi terhadap kemungkinan salah saji yang material, dengan asumsi tidak terdapat pengendalian internal yang terkait.

Risiko pengendalian
Risiko Pengendalian (control risk) adalah risiko terjadinya salah saji yang material dalam suatu asersiyang tidak akan dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh struktur pengendalian intern entitas.
Risiko Deteksi
Risko deteksi (detection risk) adalah risiko yang timbul karena auditor tidak dapat mendeteksi salah sai material yang terdapat dalam satu asersi.


BUKTI AUDIT
Bukti audit sangat mudah mempengaruhi sifat pekerjaan audit yang tercantum pada standar ketigha pekerjaan lapangan dari standar auditing yang berlaku umum (GAAS). Standar ketiga pekerjaan laporan menyatakan bahwa:
Bahan bukti (evidential matter) kompeten yang mencukupi dapat diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi, yang digunakan sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
KECUKUPAN BUKTI AUDIT
Elemen dari standar ketiga pekerjaan lapangan ini berkaitan dengan kuantitas bahan bukti. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertimbangan auditor atas kecukupan meliputi:
1. Materialitas dan risiko
Secara umum, untuk akun yang material pada laporan keuangan diperlukan bukti yang lebih banyak dibandingkan untuk akun yang tidak material. Dengan demikian, dalam mengaudit sebuah perusahaan manufaktur, maka sifat, dan luasnya bukti audit untuk medukung tujuan audit atas akun persediaan akan lebih meyakinkan dibandingkan dengan bukti yang diperlukan untuk tujuan audit atas akun beban dibayar di muka.
2. Faktor-faktor ekonomi
Seorang auditor bekerja dalam batasan ekonomi yang menentukan bahwa kecukupan bukti harus diperoleh dalam batasan waktu dan biaya yang memadai. Dengan demikian, seorang auditor seringkali menghadapi keputusan apakah penambahan waktu dan biaya akanmemberikan manfaat yang sepadan berupa perolehan bukti audit yang lebih meyakinkan.
3. Ukuran dan Karakteristik Populasi
Ukuran populasi berkaitan dengan jumlah item yang terdapat dalam populasi tersebut, seperti jumlah transaksi penjualan dalam jurnal penjualan.Ukuran populasi akuntansi mendasari banyak item laporan keunagan yang digunakan dalam penarikan sampel yang diperlukan untuk pengumpulan bukti audit. Secara umum, semakin besar populasinya akan semakin besar pula jumlah bukti yang diperlukan untuk memperoleh dasar yang memadai guna menarik kesimpulan tentang hal itu.